Jakarta, Indonesia: Pameran Lukisan ‘Sejati-Baik-Sabar’

(Falundafa.or.id) Para praktisi Falun Gong Jakarta mengadakan Pameran Lukisan ‘Sejati-Baik-Sabar’ dari tanggal 9 hingga 15 Juni 2008 di Mal Taman Anggrek, salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan termegah di Jakarta, Indonesia.
Pameran tersebut menampilkan sekitar 40 lukisan karya para praktisi Falun Gong. Menggunakan teknik lukis tradisional, para seniman yang mengikuti prinsip ‘Sejati – Baik – Sabar’ dalam kehidupan mereka sehari-hari, berusaha sebaik mungkin menampilkan keindahan kultivasi Falun Dafa; menunjukkan keteguhan hati yang tak tergoyahkan dari rekan-rekan praktisi di China selama menghadapi sembilan tahun penganiayaan kejam; upaya-upaya damai para praktisi di China maupun di seluruh dunia untuk mencari keadilan; serta keyakinan para praktisi Falun Gong bahwa keadilan dan kebenaran pasti akan mengatasi kejahatan. Dalam kesempatan tersebut, beberapa lukisan yang menampilkan kegiatan klarifikasi fakta di Manhattan, New York juga dipamerkan.

Terutama menjelang sore hari dan pada akhir pekan, pusat perbelanjaan itu ramai dengan pengunjung yang datang berbelanja atau sekedar melihat-lihat.
Seorang pria muda asal Yogyakarta berkata bahwa ia baru saja tiba di Jakarta dan sambil menunggu kedatangan adiknya, dia berkeliling-keliling melihat, kebetulan menemukan pameran kami. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisannya bagus, salah satu lukisan favoritnya adalah ‘Tugas Mulia’ (Noble Task) karya Dong Xiqiang. Melihat karya-karya seniman Falun Gong, dia berkomentar, latihan ini pasti memiliki suatu dimensi yang tidak biasa.
Seorang pria asal Belanda yang pernah tinggal beberapa waktu di Singapura dan Indonesia, mengatakan bahwa dia tahu tentang penganiayaan Falun Gong di China, tetapi tidak jelas mengapa. Setelah praktisi menjelaskan bahwa penindasan itu terjadi karena ketakutan irasional dari Partai Komunis China yang melihat perkembangan pesat dari Falun Gong di era 90-an, pria itu berharap semoga upaya kami sukses.
Seorang perempuan Muslim berkata, saya sebagai orang beragama pasti mengutuk kekejaman yang sedemikian rupa. Sementara seorang pria asal Inggris menggelengkan kepalanya, sedih, setelah melihat lukisan ‘Ketabahan’ (Fortitude) karya Wang Weixing.
Sepasang suami istri setengah baya secara antusias mengamati karya-karya yang ditampilkan. Sang suami yang berpostur tinggi besar menunjuk berulang kali pada lukisan ‘Penerangan’ (Illumination) karya Chen Xiaoping. “Indah,” komentarnya melihat lukisan seorang ibu muda membaca buku Falun Gong sementara bayinya terlelap di lengan kanannya; sedangkan istrinya dengan penuh perhatian mengamati lukisan ‘Derita Anak Yatim Piatu’ (An Orphan’s Sorrow), yang menegaskan satu aspek kemanusiaan yang sering terabaikan dari penganiayaan sistematis PKC terhadap Falun Gong, yaitu anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tua mereka terbunuh di penjara maupun kamp-kamp kerja paksa China, hanya karena mereka berlatih Falun Gong.
Seorang pria yang datang berkunjung bersama keluarganya, beberapa jam kemudian balik kembali ke lokasi pameran. Penjaga pameran yang mengenalinya, menyapa dengan ramah. Pria itu setengah berbisik, “Saya ajak kakak saya untuk melihat pameran ini.” Sementara seorang pengunjung pria asal Kota Medan, Sumatera Utara bercerita kepada praktisi bahwa dia pernah melihat pawai besar Falun Gong di Pantai Kuta – Bali, yang ditutup dengan penyalaan lilin.
Setelah berbincang-bincang dengan para praktisi yang menjaga pameran, beberapa pengunjung mengutarakan minatnya untuk berlatih Falun Gong dan menanyakan tempat serta jadwal latihan yang dekat dengan kediaman mereka. |