Bali: Peringatan 20 Juli di Pantai Kuta
Falun Dafa Menjadi Pusat Perhatian Wisatawan

(Falundafa.or.id) Memperingati 9 tahun penganiayaan Falun Gong oleh rejim Komunis China, ratusan praktisi Falun Dafa Bali mengadakan serangkaian kegiatan klarifikasi fakta di Pantai Kuta. Sambil menunggu tibanya sunset di Minggu sore, para wisatawan asing dan domestik yang memadati pantai telah memperoleh kesempatan berharga untuk mengetahui fakta kebenaran.
Pada Minggu sore tanggal 20 Juli 2008, sekitar 500 orang praktisi Bali kembali berkumpul di Pantai Kuta untuk melakukan kegiatan klarifikasi fakta dalam rangka memperingati 9 tahun penganiayaan (20 Juli 1999) terhadap Falun Dafa. Acara tersebut meliputi pawai sepanjang pantai, pementasan tari dan drama, latihan Gong bersama dan menyebar brosur.
Pawai mengambil start dan finish di depan HardRock Hotel, bergerak menyusuri tepian pantai menuju ke utara kemudian balik kembali, menempuh jarak kurang lebih 3 kilometer. Tulisan Falun Dafa dan tiga panji huruf Mandarin “Zhen-Shan-Ren” berada di barisan terdepan. Disusul oleh barisan Genderang Pinggang yang merupakan barisan terpanjang dari pawai tersebut. Di belakangnya menyusul barisan pembawa bendera beraneka warna. Beberapa tarian dari anak-anak Minghui School berada di belakangnya, yaitu Tari Pita, Tari Lotus, Tari Kipas, dan Tari Bidadari (Tari Harmoni). Kemudian disusul dengan peragaan penyiksaan terhadap praktisi oleh Polisi Komunis China. Barisan pawai itu ditutup oleh pasukan pembawa foto-foto para praktisi yang telah meninggal karena penindasan terhadap Falun Dafa di daratan China.


Mengumpulkan tanda tangan petisi untuk menghentikan penganiayaan
Sementara itu, sebagian praktisi melakukan latihan Gong bersama dan menyebar brosur dalam berbagai bahasa. Membludaknya jumlah wisatawan di akhir pekan untuk menyaksikan matahari terbenam, merupakan kesempatan yang baik untuk mengklarifikasi fakta. Sore itu, Falun Dafa telah menjadi pusat perhatian para pengunjung pantai tersebut. Banyak sekali wisatawan yang tidak menyia-nyiakan peristiwa tersebut, beramai-ramai membidikkan kamera mereka ke arah barisan pawai.
Sdr. Yudi, seorang wartawan sebuah kantor berita nasional, beberapa kali membungkuk dan berjongkok mengambil foto barisan pawai. Ia kemudian menghampiri salah seorang praktisi, menanyakan dalam rangka apakah kegiatan tersebut. Ternyata ia belum mengenal apa itu Falun Dafa. Praktisi tersebut kemudian menjelaskan secara singkat apa itu Falun Dafa dan mengapa Falun Dafa ditindas oleh Partai Komunis China. Dan kepadanya dijelaskan juga bahwa kegiatan itu adalah untuk memperingati 9 tahun penindasan terhadap Falun Dafa oleh Partai Komunis China yang hingga kini masih berlangsung.

Drama Pasir Kuning Bersimbah Darah, mengisahkan tentang pengambilan organ praktisi Falun Gong di China
Sekembalinya barisan pawai di finish, para praktisi menggelar aksi panggung berupa pementasan tari-tarian dan drama “Pasir Kuning Bersimbah Darah”. Beberapa foto-foto tentang fakta penganiayaan digelar memanjang di atas pasir pada salah satu sisi panggung. Ratusan penonton berjubel mengitari arena pementasan sekaligus menyaksikan foto-foto tersebut.
Ada sebuah tarian yang cukup menarik perhatian penonton, yaitu Tari Bidadari atau Tari Harmoni yang dibawakan oleh anak-anak Minghui. Tarian itu menampilkan kostum warna-warni yang sangat indah dengan gerakan yang menawan. Tarian tersebut diciptakan oleh seorang praktisi asal Jepang yang memperoleh Fa di Bali, dan pada saat itu ia langsung ikut menari.

Meditasi Lilin Malam untuk mengenang praktisi Falun Gong sebagai korban penindasan komunis China
Keseluruhan rangkaian kegiatan itu ditutup dengan acara Nyala Lilin Bersama. Suasana khidmat dan sakral menyelimuti pantai Kuta, dalam remang-remang bertabur cahaya lilin yang ditopang di depan dada masing-masing praktisi. |