Konferensi Berbagi Pengalaman Xiulian Falun Dafa Se-Indonesia Diselenggarakan di Bali

(Falundafa.or.id) Himpunan Falun Dafa Indonesia menyelenggarakan Konferensi Berbagi Pengalaman Xiulian Falun Dafa pada hari Minggu, 10 Agustus 2008 di Hotel Sanur Paradise Plaza, Sanur – Bali. Ini merupakan konferensi terbesar dibanding sebelumnya yang pernah diadakan di Indonesia, karena jumlah praktisi yang hadir mencapai 1.500 orang dan konferensi diselenggarakan dengan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Mandarin.
Para praktisi hadir dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Bali, Surabaya, Medan, Semarang, Solo, Yogyakarta, Lampung, Pontianak, Batam, Lombok dan Tanjung Pinang. Konferensi kali ini juga dihadiri oleh para praktisi dari luar negeri, seperti Singapura, Taiwan dan Malaysia. Sejumlah 10 orang praktisi telah membagi pengalamannya tentang melakukan tiga hal di dalam Xiulian Falun Dafa. Masing-masing praktisi yang tampil membacakan pengalamannya didampingi oleh seorang penerjemah Mandarin yang berasal dari praktisi dalam dan luar negeri. Acara dibuka pada pukul 09.00 Wita dengan melakukan Fa Zhengnian bersama.
Ibu Harun, seorang praktisi Bali, telah membagi pengalamannya tentang menata hubungan antara urusan keluarga dan jalur kultivasinya. Ia bercerita mengenai bagaimana ia melepaskan keterikatan terhadap hubungan perasaan dan keluarga agar dapat mengklarifikasi fakta di kota kelahirannya Cirebon. Meski awalnya sulit, namun setelah ia mencari ke dalam, akhirnya ia menemukan simpul-simpul keterikatannya sehingga klarifikasi fakta berjalan sukses dan keluarga pun tetap harmonis.

Seorang anak Minghui School, Ni Luh Gede Sri Bakti Asih, membacakan pengalamannya tentang bagaimana ia dibimbing oleh kedua orang tuanya untuk melepaskan keterikatan akan menonton televisi (sinetron) sehingga menimbulkan rasa suka dan tidak suka terhadap tokoh-tokoh dalam film. Ia juga suka menempel foto-foto (poster) tokoh idola di kamarnya. Setelah ayahnya membacakan petikan ceramah Guru dalam Lokakarya Seni Lukis, ia akhirnya menyadari bahwa semua itu merupakan keterikatan yang harus ia lepaskan. Berkat Dafa, ia memperoleh prestasi yang baik di sekolahnya dan mendapatkan juara umum. Ia juga bercerita bahwa sering kali teman-teman di sekolahnya merasa iri dan memperlakukannya tidak baik. Bahkan pernah ada teman yang sampai memukulnya di sekolah, namun ia teringat kata-kata Guru “dicaci tidak membalas, dipukul tidak membalas” sehingga ia bisa melewatinya dengan senyuman. Pada akhirnya teman-temannya malah bersimpati dan mendukung prestasinya di sekolah itu. Saat membacakan pengalamannya itu, Luh Gede meneteskan air matanya. Dan penerjemah Mandarin-nya pun ikut menangis terharu saat membacakan terjemahannya.
Seorang praktisi Jakarta, Bpk. Sukendro, membagi pengalamannya tentang bagaimana ia melepaskan berbagai keterikatannya setelah ia mendapat ujian berupa penyakit di matanya. Ia juga menceritakan tentang pengalaman mengklarifikasi fakta dengan menelpon langsung ke daratan China untuk menganjurkan orang-orang agar mundur dari Partai Komunis China (PKC).

Bpk. Keyar, seorang praktisi Jakarta, bercerita tentang pengalamannya memperoleh Fa yang berawal dari profesinya menjadi seorang pelukis beraliran abstrak. Sebelum menjadi praktisi Falun Dafa, ia telah terbiasa melukis dengan kesadaran kendor sehingga menghasilkan lukisan yang tidak beraturan (abstrak). Namun setelah ia mendapatkan Fa, ia menyadari bahwa melakukan apapun harus dengan kesadaran utama yang murni, termasuk melukis. Juga setelah membaca ceramah-ceramah Guru tentang seni lukis, ia akhirnya memahami bahwa seni lukis mempunyai peran yang penting dalam membuktikan kebenaran Dafa. Oleh karena itu, ia menganggap bukan suatu kebetulan bahwa ia kini menjadi koordinator Pameran Seni Sejati-Baik-Sabar yang dilakukan di beberapa kota di Indonesia.

Bpk. Sumiarta praktisi Bali, membacakan pengalamannya mengklarifikasi fakta lewat SMS ke daratan China. Ia mengatakan bahwa tidak mengerti bahasa Mandarin bukanlah merupakan halangan bagi kita untuk mengklarifikasi fakta ke daratan China. Karena teknologi yang ada sekarang sudah dapat membantu kita untuk melakukan klarifikasi langsung ke daratan China, yaitu SMS melalui handphone dan program penelpon otomatis melalui Xiao Bang Shou (alat bantu menelpon langsung ke daratan China dengan rekaman audio bahasa Mandarin). SMS dalam bahasa Mandarin dan nomor-nomor telepon di daratan China diperolehnya dari praktisi yang mengerti tentang itu. Ia mengatakan memang banyak gangguan yang dihadapi dalam menjalankan alat-alat ini. Namun berkat belas kasih Guru dan pikiran lurus yang kuat, semuanya dapat teratasi. Pak Sumi juga bercerita tentang bagaimana ia melewati ujian Xinxing dalam Xiulian pribadinya setelah mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya terluka dan tidak dapat berjalan sendiri. Namun pada akhirnya, Pak Sumi dapat melewati ujian itu dalam waktu yang singkat tanpa pengobatan medis apapun dan sembuh seperti sedia kala.

Pada akhir acara, anak-anak Minghui School berkesempatan mengisi acara dengan menampilkan sebuah lagu Meng Xing (Awakening From the Dream) dan tarian Harmoni. Keseluruhan acara berakhir pada pukul 18.10 yang ditandai dengan Fa Zheng Nian bersama. |