Genderang Pinggang Tampil di Pusat Kota Seni Gianyar


(Falundafa.or.id) Praktisi Falun Dafa Gianyar, Bali, berpartisipasi dalam pameran Pesta Rakyat Gianyar yang diselenggarakan dari tanggal 9 sampai 31 Agustus 2008 di sebuah lapangan bekas terminal kota Gianyar. Praktisi menampilkan foto-foto pengenalan latihan Falun Dafa, penyebaran Falun Dafa di seluruh dunia serta klarifikasi tentang penindasan terhadap praktisi Falun Dafa di China.
Pada hari Minggu, 24 Agustus 2008, group genderang pinggang yang beranggotakan praktisi Falun Dafa dari seluruh Bali berkesempatan tampil di depan pintu masuk pameran. Pemandangan yang sangat asing bagi masyarakat Gianyar dapat menyaksikan sebuah kesenian yang berasal dari kebudayaan China kuno. Gianyar yang merupakan pusat kota seni di Bali cukup terkesima dengan olah seni yang ditampilkan oleh praktisi Falun Dafa. Dari melihat penampilan seni genderang pinggang, para pengunjung semakin penasaran apa gerangan Falun Dafa.

Pada stan pameran Falun Dafa, para praktisi memperagakan lima perangkat metode Gong. Banyak pengunjung yang belum pernah melihat latihan Falun Dafa. Dari itu mereka banyak yang bertanya, mulai dari manfaat, tujuan, cara berlatih, cara bergabung ataupun bertanya mengapa latihan Falun Dafa ditindas di China. Praktisi dengan antusias menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sambil memberikan brosur.
Seorang ibu datang dengan anaknya dari Ubud, mereka sekedar mampir karena ada keperluan ke kota, tapi mereka mengatakan sangat beruntung bertemu Falun Dafa. Ibu itu sedang mencari suatu metode meditasi untuk suaminya yang terserang darah tinggi dan penyempitan pembuluh darah pada otak. Setelah mengetahui latihan ini juga ada unsur spiritualnya, ibu itu sangat tertarik dan meminta brosur lebih untuk diberikan ke keluarga yang lain. Begitu pula seorang bapak yang datang seorang diri ke tempat pameran, dia merasakan musik latihan Falun Dafa sangat tenang. Bapak itu tidak melihat ke stan-stan pameran yang lain, dia sungguh asyik menikmati alunan musik hingga selesai, sepertinya tidak ingin meninggalkan stan Falun Dafa. Ketika dia melihat jam tangan, waktu sudah malam, dia baru beranjak meninggalkan stan Falun Dafa.

Pengunjung pameran bukan saja masyarakat kota Gianyar, tapi datang dari kota-kota tetangga Gianyar, seperti Bangli dan Klungkung. Menurut panitia, setiap hari 500 sampai 600 karcis habis terjual, pada hari libur bisa mencapai 1000 karcis. Pameran yang dibuka pukul 5 sore dan ditutup pukul 10 malam ini, cukup untuk menyedot pengunjung menyaksikan stan Falun Dafa. Kelompok pemuda yang mengaku datang dari kota Bangli, merasa asing setelah masuk ke stan Falun Dafa. Mereka mengatakan sering mencoba ilmu tenaga dalam, tapi belum pernah bertemu Falun Dafa. Mereka bisa merasakan suatu medan yang tenang berasal dari stan Falun Dafa. Setelah mendapat penjelasan dari praktisi, mereka antusias mengatakan akan mencari informasi yang lebih mengenai Falun Dafa melalui internet.
Lain halnya dengan sepasang suami istri dari keturunan Tionghoa, mereka sengaja mampir ke stan Falun Dafa untuk mengetahui fakta kebenaran penindasan terhadap praktisi Falun Dafa di China. Setelah mendapat penjelasan dari praktisi, mereka mengatakan prihatin terhadap praktisi Falun Gong yang ditindas di China. Mereka mengutuk rejim komunis yang berkuasa menyiksa rakyatnya sendiri. Satu persatu foto-foto yang terpajang diamati dengan teliti. Terlihat dari raut wajahnya keprihatinan mendalam terhadap penindasan praktisi Falun Gong di China. Setelah selesai melihat-lihat, mereka mengucapkan terima kasih kepada praktisi telah memberi penjelasan yang benar kepada mereka. |