Guru Li Hongzhi pertama
memperkenalkan Falun Gong ke masyarakat pada thn 1992. Orang
yang mula-mula ingin latihan tidak hanya menemukan efek
penyembuhan yang luar biasa, namun juga menemukan jawaban
dari pertanyaannya yang mendalam dalam kehidupannya. Setelah
mereka berlatih, teman-teman dan familinya mulai memperhatikan
bagaimana mereka semuanya menjadi orang yang sehat dan baik.
oleh sebab itu, jumlah praktisinya bertambah terus. Jauh
dan luas, Falun Dafa menyebar di lebih dari 70 negara dan
menarik perhatian semua lapisan orang dan latar belakang
kebudayaan yang berbeda untuk belajar dan berlatih.
Latihan Falun Gong
menjadi semakin populer dan berkembang pesat di China karena
manfaat kesehatan jiwa-raga yang diperoleh para praktisi
setelah berlatih Falun Gong. Jumlah praktisi yang berlatih
terlalu besar di mata pemimpin komunis China, Jiang Zemin.
Menurut survey yang dilakukan pemerintah China pada akhir
tahun 1997, jumlah praktisi Falun Gong telah mencapai 70
juta orang, jauh melebihi anggota partai komunis China.
Terdapat cukup banyak pejabat pemerintah, bahkan kader partai
komunis sendiri yang ikut berlatih Falun Gong. Terutama
setelah terjadinya peristiwa unjuk rasa damai berskala besar
(kurang lebih 10.000 orang) oleh praktisi Falun Gong di
Zhong Nan Hai (pusat pemerintahan di Beijing), yang memohon
diberikannya lingkungan yang sah dan tidak terganggu bagi
mereka untuk berlatih, karena sebelumnya telah terjadi penangkapan
dan pemukulan terhadap mereka. Peristiwa tersebut telah
mengejutkan petinggi negara, dan beranggapan massa Falun
Gong kelak akan menjadi kekuatan yang beroposisi dengan
pemerintah. Kecurigaan yang tak berdasar ini telah membutakan
mata mereka akan fakta bahwa Falun Dafa telah meningkatkan
kesehatan moral spiritual para penduduk China, yang sebelumnya
telah mereka puji sebagai: "Falun Dafa telah menghemat
biaya kesehatan negara". Sebelumnya, pemerintah juga
banyak sekali menganugerahi penghargaan kepada Falun Dafa.
Bahkan perdana mentri Zhu Rongji pernah mengagumi Falun
Gong dan berkata bahwa setiap praktisi Falun Gong dalam
setahun telah menghemat biaya pengobatan sebesar 1000 yuan."
Tahun 1999, pemerintah
Tiongkok melarang buku Zhuan Falun (buku pembimbing kultivasi
Falun Gong), karena menurut mereka isinya " takhayul
". Partai Komunis Tiongkok menganggap semua hal tentang
jiwa, spiritual atau kepercayaan adalah takhayul karena
bertentangan dengan kepercayaan mereka terhadap materialisme
dan atheisme dari ideologi Marxist.
Rejim Jiang takut
perkembangan jumlah praktisi Falun Gong ini akan mengancam
kedudukannya, padahal praktisi-praktisi Falun Gong maupun
Mr. Li Hongzhi tidak pernah berniat untuk terlibat politik
ataupun menentang pemerintahan.*
Segera dikeluarkanlah perintah ke polisi untuk mulai mengusik
para praktisi, menghalangi mereka berlatih bersama, atau
menangkap mereka dan memasukkannya ke dalam penjara. Sejak
saat itu berbagai macam fitnahan dan berita bohong tentang
Falun Gong dan praktisi-praktisi disebarluaskan ke seluruh
dunia melalui media dan kedutaan-kedutaan China disetiap
negara, sehingga menyebabkan banyak orang terutama orang-orang
China dan media di luar negri yang tidak tahu berita sebenarnya
termakan berita bohong tersebut. Sementara itu, penangkapan,
penganiayaan dan pembunuhan terhadap para praktisi yang
tidak bersalah terus dilakukan oleh pemerintah China.
* : Guru Li Hongzhi
pernah berkata pada para praktisi Falun Dafa untuk : "Selamanya
tidak melibatkan diri dalam politik, tidak mencampuri urusan
negara, sejati berkultivasi menuju kebaikan, pertahankan
agar kemurnian Dafa tetap tidak berubah, bagaikan berlian
tak terhancurkan, abadilah sepanjang masa."
Akhir-akhir ini banyak tanggapan dari masyarakat, terutama
dari kalangan etnis Tionghoa, yang mengatakan kegiatan Falun
Gong sudah menjurus ke politik. Apakah betul tanggapan tersebut?
Sejauh mana kita sebagai praktisi Falun Gong memandang masalah
tersebut?
Istilah “politik” atau “berpolitik”,
bila ditelusuri mencuatnya dia sehingga menjadi suatu istilah
yang terkesan “menakutkan”, yang membuat orang-orang
enggan bersentuhan dengannya, adalah bersamaan dengan beralihnya
masyarakat manusia dari sistim lama (kerajaan, feodal) ke
sistim modern (republik, sosialis, demokrasi). Pada mulanya,
istilah tersebut biasa-biasa saja, hanya menyangkut hal-hal
yang berhubungan dengan tata negara dan kekuasaan negara,
namun seiring makin merosotnya moralitas manusia, maka istilah
tersebut disalahgunakan oleh pihak penguasa untuk mengekang,
menekan bahkan menjerat pihak lawan. Berkembang hingga saat
ini, istilah “berpolitik” telah menjadi sebuah
senjata ampuh bagi kelompok tertentu dari pihak penguasa
(terutama pada negara sistim otoriter/diktator) untuk melumpuhkan
pihak lain yang dianggap beroposisi pendapat dengannya.
Dalam artikel Shifu “Bukan politik” (4 Juni
2001) terdapat beberapa kalimat awal sbb : “Politk
adalah istilah modern dari masyarakat yang sudah menyimpang.
Masyarakat manusia yang sesungguhnya dalam sejarah tidak
terdapat istilah ini dan hal-hal yang mengandung muatan
politik. Sejak politik muncul dalam masyarakat manusia,
masyarakat manusia telah mulai menyimpang, bersamaan itu,
nilai-nilai moral juga diserang olehnya.” Kemudian
pada alenia kedua tertulis sbb : “Tetapi terhadap
para penentang yang membela kebenaran, yang menentang kekuasaan
politik jahat karena mencelakakan negara dan rakyat, orang
juga menganggap mereka terlibat dalam politik, karena mereka
mempunyai pendirian politik yang jelas. Walaupun pendirian
mereka, orang-orang menganggapnya positif, tapi bagaimanapun
juga tindak tanduk politik adalah produk dari masyarakat
yang telah menyimpang. Jika tidak ada masyarakat manusia
yang telah menyimpang seperti saat sekarang, maka tidak
akan ada pemunculan politik.
Sebagai contoh, pada masa orde baru saat Soeharto masih
berkuasa, terdapat perangkat hukum yang disebut Undang-undang
anti subvesi, yang sarat dengan kekangan politik, undang-undang
tersebut sangat membatasi ruang gerak mereka yang tidak
puas dengan pemerintah disaat itu, terutama para mahasiswa
dan cendikiawan. Sedikit saja ucapan yang tidak berkenan
bagi pihak penguasa, akan dijerat dengan undang-undang tersebut
dan yang bersangkutan bisa ditangkap. Baru setelah bangkitnya
“era reformasi”, undang-undang ini telah dicabut.
Dengan demikian, kriteria “berpolitik” sangatlah
bias, tidak ada tolok ukur yang tepat, bagi orang-orang
di negara maju, mereka mungkin tidak menganggap kegiatan-kegiatan
dibawah ini sebagai berpolitik, misalnya : berunjuk rasa
menyampaikan pendapat, mengungkap fakta kebenaran di muka
umum, menyuarakan keadilan dengan berbagai cara, dll. Namun
di negara ketiga, terutama negara sistim otoriter, semua
kegiatan ini mungkin ditabukan oleh pihak penguasa.
Celakanya sekarang, orang-orang yang pikirannya telah diindoktrinasi
oleh faham “berpolitik” secara tidak benar dalam
jangka panjang, terutama kalangan etnis Tionghoa yang terpengaruh
berat oleh kebudayaan partai komunis, dalam benak pikiran
mereka telah terbentuk suatu konsep, yang memandang segala
perilaku yang sifatnya tidak patuh terhadap kebijakan suatu
negara, sebagai tindakan berpolitik, walaupun kebijakan
tersebut nyata-nyata menguntungkan segelintir orang namun
menimbulkan dampak buruk bagi banyak orang.
Dalam kasus Falun Gong, praktisi Falun Gong di manca negara
memang giat mengadakan berbagai kegiatan, dari menyebarkan
brosur, mengklarifikasi fakta kepada orang-orang, sampai
mengadakan aksi damai dan peragaan penyiksaan di depan Kedubes
RRC yang semuanya bertujuan menghimbau atau memohon kepada
pemerintah China supaya menghentikan penindasan dan penganiayaan
terhadap Falun Gong. Perbuatan tersebut tidak dapat dikatakan
berpolitik, karena pada dasarnya kita tidak menentang suatu
negara, hanya menyatakan keprihatinan dan menyuarakan keadilan
bagi sesama rekan praktisi yang tertindas, serta memohon
dihentikan penganiayaan. Ini merupakan hak asasi yang paling
dasar bagi setiap orang untuk dapat berbicara dan menyatakan
pendapat; jika perbuatan ini dianggap berpolitik, lalu apakah
kita harus diam saja menghadapi penganiayaan ini? Bukankah
itu berarti membenarkan perbuatan mereka? Dalam keadaan diperlakukan tidak adil,
harus mengizinkan seseorang berbicara.
Disamping itu, yang diungkap adalah fakta penganiayaan
yang selama ini ditutupi, dengan mengungkap fakta, orang
akan tahu keadaan yang sesungguhnya, sehingga tidak mudah
lagi dikibuli oleh berita-berita bohong maupun fitnahan
yang sepihak dari pemerintah partai komunis China, sebagian dari mereka bahkan akan merasa simpati
dan menyatakan dukungan terhadap Falun Gong. Bukankah ini
berarti menyadarkan orang-orang, dan menolong mereka keluar dari
kisaran kebohongan, dengan kata lain, agar mereka tidak lagi
memihak dan membantu orang-orang jahat menyebarkan kebohongan
atau mencemooh praktisi Falun Gong yang berusaha menjelaskan
fakta kebenaran. Karena bagaimanapun, penganiayaan terhadap
orang-orang baik seperti praktisi Falun Gong merupakan dosa
yang amat besar ditinjau dari hukum alam semesta, para pelakunya
pasti akan mendapat ganjaran dikemudian hari. Mereka yang
memihak pada kejahatan partai komunis dan memperlakukan Falun Gong dengan tidak adil, bukankah juga akan menerima ganjaran?
Berapa banyak orang yang menderita
oleh penganiayaan Jiang Zemin Terhadap Falun Gong?
Sejak pemimpin China, Jiang Zemin, memulai
penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong pada tahun 1999,
tercatat ribuan kematian praktisi yang meninggal karena penganiayaan yang
dilakukan oleh polisi/pejabat partai komunis china.
100 juta orang yang berlatih Falun Gong
(menurut survey pada tahun 1998) di China kehilangan haknya
saat Jiang melarang latihan Falun Gong pada tahun 1999.
Ratusan ribu praktisi Falun Gong telah
ditangkap dan dianiaya secara ilegal.
Lebih dari 500 praktisi tak bersalah
dijatuhi hukuman penjara dengan masa penahanan sampai
18 tahun.
Lebih dari 1000 praktisi yang sehat
dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Lebih dari 100.000 praktisi dimasukkan
ke dalam kamp kerja paksa secara ilegal tanpa melalui
proses pengadilan.
Bagaimana Falun Gong merespons penindasan
ini?
Praktisi Falun Gong di China telah memohon
kepada pemerintah China agar diberikan lingkungan berlatih
Falun Gong yang damai melalui jalur legal, dan menolak penganiayaan
ini dengan permohonan damai tanpa kekerasan. Tidak ada satupun
laporan yang menyebutkan praktisi Falun Gong merespons dengan
kekerasan, merusak barang-barang, dsb; meskipun mengalami
pemukulan, penganiyaan, dimasukkan ke penjara, dibunuh dan
tindakan ketidak-adilan lainnya. Praktisi di luar negeri
China telah melakukan long march, melakukan mogok makan,
duduk bermeditasi untuk memohon di depan kedutaan China,
menulis surat ke berbagai pimpinan pemerintahan dan organisasi,
melakukan rally, mengadakan press conference dan mendokumentasikan
pelanggaran hak asasi, agar dunia mengetahui penganiayaan
ini, dan fakta sebenarnya dibalik penganiayaan ini, dan
dapat mendesak pemerintah China untuk menghentikannya. Saat
ini para praktisi di beberapa negara sedang mengajukan tuntutan
ke pengadilan terhadap mantan presiden China Jiang Zemin
karena telah memerintahkan penganiayaan dan pembunuhan atas
ratusan ribu praktisi-praktisi yang tak bersalah di China.
Bagaimana tanggapan dari Masyarakat
Internasional?
Pada bulan November 1999, Senat US telah
mengeluarkan Resolusi 218, yang mengutuk tindakan Beijing
dan menyerukan untuk pelepasan segera para praktisi yang
dipenjara. Sebuah resolusi baru, yang bahkan lebih kuat,
yaitu HR 188, dikeluarkan bulan Juli 2002. Presiden Bush
dan menteri luar negeri Powell telah berbicara dan mengeluarkan
pernyataan. Pemerintah-pemerintah diseluruh dunia juga telah
memberikan tanggapan yang sama. Kelompok-kelompok Hak Asasi
Manusia dan organisasi lainnya telah mengeluarkan dukungan
terhadap kebebasan berkeyakinan Falun Gong, termasuk: Freedom
House, Amnesty International, Physicians for Human Rights,
dan the National Organization for Women. Di Indonesia, latihan
Falun Gong legal dan boleh dilatih oleh siapa saja. Pejabat
pemerintah, termasuk anggota Komisi I DPR juga telah menyatakan
bahwa Falun Gong tidak bermasalah. Saat ini, lebih dari
12 negara telah mengajukan
tuntutan untuk mengadili mantan pemimpin partai komunis
China Jiang Zemin atas kejahatan Genocide yang dilakukannya
kepada praktisi-praktisi Falun Gong. Untuk mengetahui lebih
lanjut mengenai Dukungan Masyarakat Internasional dan Berbagai
Pemerintahan, silakan klik : Penghargaan
dan Dukungan
Apa itu Falun Gong?
Falun Gong ialah suatu cara melatih diri
(berkultivasi) peringkat atas; berupa suatu sistem perangkat
latihan yang benar-benar nyata dapat meningkatkan moral,
tubuh dan spiritual seseorang menuju ke tingkat yang lebih
tinggi, didasarkan pada prinsip "Sejati-Baik-Sabar",
yang merupakan karakter tertinggi alam semesta. Latihan
ini diperkenalkan di China pada tahun 1992 dan dengan
cepat menyebar melalui mulut ke mulut di negeri China
sampai ke luar negeri. Falun Gong kini telah dilatih lebih
dari 100 juta orang di 40 negara, termasuk Indonesia.
Siapa Mr. Li Hongzhi?
Mr. Li Hongzhi adalah pendiri dan Guru
Falun Gong. Beliau memperkenalkan latihan Falun Gong ke
masyarakat umum di China pada tahun 1992. Berdasarkan
tradisi China, Mr. Li dipanggil sebagai "Master"
atau "Guru" oleh para praktisi Falun Gong, namun
Ia tidak menginginkan perlakuan khusus, ataupun menerima
uang maupun sumbangan dari para praktisi. Selain di China,
Mr. Li telah memberikan ceramah Falun Gong di berbagai
negara, termasuk Australia, Swiss, Canada, Jerman, Singapura
dan Amerika. Atas jasa-jasa dan kontribusinya pada kemanusiaan,
Beliau telah dianugerahi lebih dari 400 penghargaan dan
gelar kehormatan, dan dua kali nominator Nobel Perdamaian.
Apakah Falun Gong merupakan agama?
Falun Gong bukanlah suatu agama. Tidak
ada ritual agama atau pemujaan dalam sistem kultivasi
ini. Walaupun para praktisi sangat menghormati Guru Li,
Dia tidak ingin siapa pun yang memujanya. Suatu agama
mempunyai struktur organisasi yang kokoh, ada hirarki,
dan menerima dana, ada formalitas; Falun Gong tidak seperti
itu. Dalam Falun Dafa tidak ada biaya anggota atau pendaftaran.
Orang-orang dengan latar belakang atau keahlian yang berbeda
secara sukarela membantu sesuai kemampuannya. Namun, semuanya
dianggap sebagai pengikut dan semua orang adalah sama,
tidak perduli sudah berapa lama dia latihan. Guru Li tidak
mengizinkan sumbangan apa pun, aktivitas pengumpulan dana
atau uang dikumpulkan atas nama Falun Dafa. Jika praktisi
berkeinginan untuk memperkenalkan Falun Dafa ke berbagai
daerah, melakukan peragaan latihan, atau mencetak brosur
informasi, membuat website, mengadakan konferensi dll,
mereka mencari biayanya sendiri untuk membayarnya. Itu
adalah spontan, kegiatan individu bukan permintaan atau
keputusan organisasi.